“A country without documentary films is like a family without a photo album.“
– Patricio Guzman, Chilean filmmaker

Film Selection

Film Selection

2020 – The year Coronavirus changed the lens-scape of films

In this year 2020 where a pandemic is still sweeping across the world, rebooting the reality of our lives and changing what we once took as normal life into something very different. The Freedom Film Fest like most festivals worldwide has had to adapt – and transition to an online digital experience with not just the film screenings but all our usually boisterous forums and discussion panels set to take place in a digital space. Our world may have come off the rails but our commitment to filmmaking perseveres. The Freedom Film Festival now returns in its 18th year to highlight the finest local and regional filmmakers in their goal to champion real human stories.

We are separated by bridges that transit our divides
The world we’re in upended, the borders still shut, the flights still grounded and this year instead of the usual influx of regional and international filmmakers and films in competition, the Freedom Film Festival find ourselves looking closer to home. So this year instead of our “film competition”, we have focused instead on a cinematic conversation with our closest neighbour across the Causeway.  Films are always about building bridges between cultures – so this year we are ask each what is happening on your side of the bridge. Consequently  the Freedom Film Festival  have zoomed-in our lenses to work with filmmakers in Malaysia and Singapore to strip  away the distance, the immigration checkpoints, the water price and food wars between us and instead share stories about our lives separated by bridges.

Premiere Screenings of Malaysian and South East Asian Films

FreedomFilmFest2020 ‘s Film Screenings Program
This year’s Freedom Film Festival 2020 aims to seize your imagination with screenings of premiere Malaysian and South East Asian films including FreedomFilmFest2020 Film Grant winners and a selection of South East films including a Retrospective of Singaporean Filmmakers. Showcasing films and documentaries that explore issues ranging from state assault on the freedom of expression in Malaysia, the plight of sex workers in Singapore during the pandemic, art-of-the-state propaganda in North Korea and children of the disappeared in 1965 Indonesia to Orang Asli facing encroachment on their native lands .

FreedomFilmFest2020 Film Grant Winner - Premiere

Director: Lily Fu

Malaysia | Documentary | Malay with English subtitles | 23 mins

Reflecting the breakdown of traditional family values in modern Malaysian society that marginalizes the elderly, Meniti Senja explores the alarming rise in the elderly being left to fend for themselves in aged care centers- removed from the comfort of homes they knew and children they raised. Recounting the stories of people who were once mothers, fathers, grandparents - now slowly aging amidst strangers within the walls of a care home in Puchong, this film tells their heart-breaking stories of abuse, exploitation and abandonment. Age eventually catches up with everyone and by 2030, Malaysia’s population >65 will increase to 15%. Are we witnessing our own fates in a not too distant future?

Membawa gambaran atas keruntuhan nilai kekeluargaan dalam masyarakat Malaysia moden yang memencilkan warga tua, Meniti Senja membongkar peningkatan membimbangkan kes warga tua yang ditinggalkan keseorangan di rumah penjagaan warga emas - jauh dari keselesaan hidup di rumah sendiri bersama anak-anak yang dibesarkan mereka. Menceritakan semula kisah-kisah mereka yang pernah menjadi ibu, bapa, datuk, dan nenek - yang kini beransur-ansur dimamah usia bersama orang-orang asing dalam rumah jagaan di Puchong, filem ini merakam kisah-kisah penganiayaan, eksploitasi, dan peninggalan yang menyayat hati. Setiap orang akan meniti usia tua, dan menjelang 2030, populasi rakyat berusia lebih 65 tahun akan meningkat sehingga 15%. Adakah kita sedang menyaksikan takdir sendiri di masa hadapan yang tak begitu lama lagi?

FreedomFilmFest2020 Film Grant Winner - Premiere

Directors: Loh Jo Yee, Hidayah Hisham & Dominique Teoh

Malaysia | Documentary | Malay with English subtitles | 18 mins

In a country where possession of cannabis is punishable with death, Siti finds herself pulled into the unfamiliar world of lengthy legal proceedings and prison visits when her 60 year old father is arrested for using medical cannabis to treat his chronic illnesses. In her journey to save her father from the death penalty, Siti finds herself succumbing to fear and anxiety as she navigates through her own personal challenges - all the while fearing that she might never see her father again. All in all, ‘Ayahku, Dr. G’ is a story about a daughter’s quest for her father’s justice from a law that puts punishment before public health.

Dalam negara di mana pemilikan ganja boleh disabitkan dengan hukuman mati, Siti dibelenggu dengan proses perbicaraan mahkamah yang tiada penghujung serta kerap melawat ayahnya di penjara. Ayahnya yang berusia 60 tahun ditahan kerana mengambil ganja sebagai ubat untuk merawat penyakit kronik yang dihidapinya. Setiap cabaran yang dihadapi Siti untuk menyelamatkan ayahnya dari tali gantung menambahkan lagi perasaan takut dan resah dalam dirinya. Persoalan yang sering terngiang di kepala hanyalah satu - Adakah dia bakal kehilangan ayahnya?. ‘Ayahku, Dr. G’ menceritakan tentang kisah seorang anak yang bertungkus-lumus mencari keadilan buat ayahnya, mangsa undang-undang yang memandang enteng terhadap kebajikan awam dan menjurus kepada hukuman.

FreedomFilmFest2020 Film Grant Winner - Premiere

Director- Jessica Lee

Singapore | Documentary | Malay with English subtitles | 14 mins

The Shades of Love is an intimate journey into the loves, lives and losses of 3 sex workers in Singapore. As an ordinary day in this city unfolds, the voices of these women take us beyond the everyday we dwell in, into the lived experiences they inhabit. Moving beyond the one-dimensional perception of sex workers, these women are also lovers, daughters, therapists, entrepreneurs, and educators. By shedding light on the humanity, dignity, and power of this marginalised and underserved community, their stories teach us one thing - love and life come in various shades.

Shades of Love adalah sebuah perjalanan intim menelusuri cinta, kehidupan, dan kehilangan buat tiga orang pekerja seks di Singapura. Di sebalik hari-hari biasa di kota ini, suara wanita-wanita ini membawa kita melangkaui kebiasaan kita, ke dalam pengalaman yang dilalui mereka. Meninggalkan pandangan satu dimensi tentang pekerja seks, wanita-wanita ini juga adalah pencinta, anak gadis, ahli terapi, usahawan, dan pendidik. Dengan menyuluhkan cahaya ke arah sisi kemanusiaan, harga diri, dan kuasa yang dimiliki oleh komuniti tertindas dan terasing ini, kisah mereka mengajar kita satu perkara - cinta dan kehidupan datang dalam pelbagai warna.

FreedomFilmFest2020 Film Grant Shortlist - Premiere

Director - Nurfitri Amir

Malaysia | Documentary | Malay with English subtitles | 17 mins

A rural smallholding padi farmer from Alor Pongsu, Azhar rues the bitterness of an exploitative system where farmers like him are shortchanged with expensive commercial seeds that increasingly yield poor harvests despite all their hard work and dedication. Angered by the declining harvests and rising costs, Azhar takes matters into his own hands by cultivating rice seeds, an age-old farming practice long since forgotten after the government started aggressively marketing commercial seeds. However, he faces a battle to correct government-sown misconceptions of farmers being failures due to laziness and unwillingness to learn modern techniques. Matters come to q head and Azhar must decide it’s time for farmers to band together to seek justice and demand change to their common livelihoods.

Azhar merupakan seorang pesawah yang berwawasan, rajin dan gigih berusaha. Beliau berasal dari Alor Pongsu, sebuah pekan kecil di utara Perak yang dikelilingi sawah padi. Beliau terlibat dalam pekerjaan sebagai petani sejak berumur 16 tahun lagi.

Kini berusia 52 tahun Azhar cukup berpengalaman dan sudah masak dengan pelbagai isu dan masalah di sawahnya. Eksploitasi harga benih padi sah yang mahal dan kualiti yang teruk yang berlaku hampir setiap kali tiba musim menanam mengecewakan beliau. Azhar mengurangkan kebergantungan terhadap benih komersial dengan memproses benih padinya sendiri di rumah yang merupakan ilmu pertanian tradisional yang semakin lama ditinggalkan sejak penghasilan benih secara komersial digalakkan kerajaan.

Marah dan tertekan dengan tekanan pendapatan yang semakin berkurangan serta kos yang semakin meningkat serta tuduhan yang mengatakan petani malas dan tidak berpengetahuan, Azhar berazam untuk menuntut keadilan dan melakukan perubahan terhadap nasib pesawah seperti beliau bersama-sama dengan sahabat-sabahat beliau.

FreedomFilmFest2020 Film Grant Shortlist - Premiere

Director - Goh Choon Ean

Malaysia | Documentary | English, Malay & Mandarin with English subtitles | 20 mins

A human rights activist produces a contemporary shadow play about death and abuse in custody, while in the midst of her journey to make sense of the injustice that takes place behind and beyond the bars. Di Luar Bayangan / Beyond Understanding is a series of short films about death and abuse in custody. Each story highlights a different journey, from perspectives of victims, their families, lawyers, activists, and human rights workers.

Seorang aktivis hak asasi manusia menghasilkan wayang kulit kontemporari mengenai kematian dan penyalahgunaan dalam tahanan, dalam perjalanannya untuk memahami ketidakadilan yang berlaku di belakang dan di luar jeriji besi. Di Luar Bayangan / Beyond Understanding adalah satu siri filem pendek mengenai kematian dan penderaan dalam tahanan. Setiap kisah menyoroti perjalanan yang berbeza, dari perspektif mangsa, keluarga mereka, peguam, aktivis, dan pekerja hak asasi manusia.

Premiere

Producers - Ada Along, Analisa Atang, Arni Natasya Ibrahim, Azie Ibrahim, Diana Tan, Lungey Uda, Maranisnie Mohsin, Natasya Robut, Niwani Sari, Nora Kantin, Rosdila Ngah Roslan, Rosita Dollah, Selindang Seliman, Sherry Tan, Sylvia Othman, Yaliyana Lenab

Malaysia | Short Film | Temiar with English subtitles | 13 mins

Aleh, a young Orang Asli woman, struggles to find support from her village when her family's ancestral land is encroached. In fear of losing her land that she also uses to grow ubi kayu, she seeks out famous Orang Asli YouTuber Rien to expose and share her story. But Rien refuses at first as she believes that their community should pursue a better life in the city instead of farming on their land. Aleh and Rien eventually realise that they share similar struggles because of their identity. Together, they find their voice and speak out.

Aleh, seorang wanita muda Orang Asli, kurang mendapat sokongan kampungnya apabila tanah keluargnya dicereboh. Beliau menggunakan tanah tersebut untuk menanam ubi kayu dan Aleh risau akan hilang hak terhadap warisan itu. Bagi menceritakan kisahnya dan mendapatkan pertolongan pihak luar, Aleh mencari Rien, seorang YouTuber Orang Asli yang terkenal. Pada mulannya Rien tidak berminat kerana beliau merasakan Orang Asli patut meninggalkan kampung dan mencari kehidupan yang lebih baik di bandar. Namun lama kelamaan, Rien sedar bahawa beliau dan Aleh mempunyai cabaran hidup yang sama kerana identiti mereka sebagai Orang Asli. Oleh itu, mereka bergabung tenaga dan tekad untuk menyuarakan diri mereka.

Premiere

Director - Arian Md Zahari

Malaysia | Documentary | Malay with English subtitles | 23 mins

Political documentary Nasir Jani Melawan Lembaga Puaka follows the cult-filmmaker of ‘Kembara Seniman Jalanan’ on his reflective journey looking at the complex culture of censorship in Malaysia. In particular 1992, the year rock musicians were give the short shrift- literally having their hair cropped on stage. Live on-air. What truly went on behind the scenes of this most shocking event in nineties Malaysia, affected the creative output of Nasir Jani in the succeeding years. This intertwining of Mahathirism in its formative period to the ironic culture of authoritarianism - this documentary visualises multiple perspectives of upcoming filmmakers, Amanda Nell Eu and Steven Sarathbabu, grappling and negotiating with the logic of censorship and what goes on behind it.

92’. Rockers menangis. Langsung dari kaca tivi. Apa yang berlaku di sebalik peristiwa awal 90-an yang cukup mengejutkan di Malaysia ini sekaligus memberi kesan kepada pengkaryaan Nasir Jani pada tahun-tahun berikutnya? Dokumentari ‘Kembara Nasir Jani Melawan Lembaga Puaka’ mengekor perjalanan pembikin filem-kultus ‘Kembara Seniman Jalanan’ ini dalam merenung kompleksnya budaya penapisan di Malaysia. Pertembungan Mahathirisme di awal-awal pemerintahannya sehinggalah budaya autoritarian yang cukup ironis, dokumentari ini juga menanggapi perspektif rencam dari pembikin filem muda, Amanda Nell Eu dan Steven Sarathbabu yang bergelut dan menggelecek dengan logik penapisan serta apa yang berlaku di baliknya.

Premiere

Produced by: Arni Natasya, Azie Suzana, Lungey Uda, Maranisnie Mohsin, Rosdila Roslan, Rosita Dollah, Selindang Seliman, Sherry Tan, Sylvia Othman, Yaliyana Lenab

Malaysia | Short Film | Malay with English Subtitles | 15 mins

Deep in a forest in Perak, two young Orang Asli women from the city named Nget and Abong are enjoying the beauty and calmness of nature. But their enjoyment quickly turned into despair when Abong suddenly falls gravely ill. In their quest for healing, they discover their elders' knowledge in the medicinal properties of herbs and their deep spiritual and physical ties with the forest. They experience true healing when they finally reconnect with their traditional values and identity.

Jauh di dalam sebuah hutan di Perak, Nget dan Abong, dua wanita Orang Asli dari bandar dibuai ketenteraman dan keindahan alam semulajadi. Tetapi kebahagian mereka bertukar menjadi kesedihan apabila Abong tiba-tiba jatuh sakit. Dalam usaha mencari penawar bagi penyakit Abong mereka kembali kepada tradisi ubat-ubatan nenek moyang mereka. Di dalam tradisi tersebut, Nget dan Abong menjalin pertalian rohani dan fizikal dengan dunia rimba. Dengan kembalinya mereka pada identiti dan nilai-nilai tradisi, kedua-dua wanita itu menjumpai penawar hati yang sejati.

Premiere

Director - Norhayati Kaprawi

Malaysia | Short Animation | Malay with English subtitles | 5 mins

Kak Eton, a 40-year-old woman, is left by her husband for another woman. Shattered and alone, she decides to rebuild her life by creating her own world with her two bare hands.

Dalam dokumentari yang disampaikan dalam bentuk animasi ini, Kak Ton (bukan nama sebenar) menceritakan sendiri kisah suka dukanya serta bagaimana Kak Ton menghadapi cabaran dalam hidupnya setelah ditinggalkan oleh suaminya yang berkahwin lain tanpa pengetahuannya.

Screening with SULOH

Director – Kat Catalan
Phillipines | Short Documentary | Tagalog with English subtitles | 6 mins

Still Here, Still Walking is a diary film about a Filipino struggling to reconcile contradictions between her mental health issues and her political activism. It builds on her reflections, starting as a naïve art student from a school founded by Imelda Marcos to a conscious participant in protests against President Rodrigo Duterte. This overlaps with conflicts with her family, her studies, her comrades, and within herself.

Still Here, Still Walking” adalah sebuah filem yang berbentuk diari oleh seorang aktivis Filipina dalam usahanya menangani isu kesihatan mentalnya dan aktivisme politiknya. Ia mengikuti perkembangannya dari seorang mahasiswa yang naif di institut seni yang ditubuhkan isteri bekas diktator Imelda Marcos kepada seorang pejuang menentang president Rodrigo Duterte. Beliau juga mengalami cabaran mengimbangi perjuangnya dengan tekanan daripada keluarga, pelajaran, sahabat-sahabat dan daripada dalam dirinya.

Screening with SULOH

Director – Kartika Pratiwi

Indonesia | Short Documentary | Bahasa Indonesia with English subtitles | 5 mins

In Indonesia, 1965. Suddenly, hundreds of thousands of people were arrested without official warrants. Some returned home, many disappeared forever. Hundreds of thousands, if not millions, of children lost their parents. A Daughter’s Memory, is a story of one of survivors of the darkest chapters in Indonesia’s history. She recalls her memories with her loving father who was one of the senior leaders of Indonesian Communist Party.

Indonesia, 1965. Beratusan ribu individu ditangkap oleh kerajaan tanpa sebarang alasan rasmi. Sesetengah daripada mereka dilepaskan. Tetapi ramai lagi yang hilang selama-lamanya. Beratusan ribu, malah berjuta anak-anak hilang ibubapa mereka. “A Daughter’s memori” adalah sebuah kisah seorang yang telah menempuh sejarah hitam ini. Beliau mengimbas kembali memori ayahnya yang tercinta yang merupakan pemimpin kanan Parti Komunis Indonesia.

Preview

Director - Jason Ong Aik Lee

Malaysia |Short Documentary | Malay with English subtitles | 8 mins

A phone call announces the loss of a father in a family. A tragedy in custody. Committed crime or not, do these people behind bars deserve such inhumane treatment? A shadow play inspired by the true story of Chandran Perumal, and based on actual court transcripts. Di Luar Bayangan / Beyond Understanding is a series of short films about death and abuse in custody. Each story highlights a different journey, from perspectives of victims, their families, lawyers, activists, and human rights workers.

Sebuah panggilan telefon membawa berita kehilangan seorang bapa buat keluarga. Sebuah tragedi dalam tahanan. Bersalah atau tidak, adakah tahanan di balik jeriji besi ini boleh diperlakukan tanpa perikemanusiaan sedemikian? Sebuah wayang kulit yang diinspirasikan dari kisah Chandran Perumal. Di Luar Bayangan / Beyond Understanding adalah satu siri filem pendek mengenai kematian dan penderaan dalam tahanan. Setiap kisah menyoroti perjalanan yang berbeza, dari perspektif mangsa, keluarga mereka, peguam, aktivis, dan pekerja hak asasi manusia.

FreedomFilmFest2020 Film Grant Winner - Premiere

Director: Lily Fu

Malaysia | Documentary | Malay with English subtitles | 23 mins

Reflecting the breakdown of traditional family values in modern Malaysian society that marginalizes the elderly, Meniti Senja explores the alarming rise in the elderly being left to fend for themselves in aged care centers- removed from the comfort of homes they knew and children they raised. Recounting the stories of people who were once mothers, fathers, grandparents - now slowly aging amidst strangers within the walls of a care home in Puchong, this film tells their heart-breaking stories of abuse, exploitation and abandonment. Age eventually catches up with everyone and by 2030, Malaysia’s population >65 will increase to 15%. Are we witnessing our own fates in a not too distant future?

Membawa gambaran atas keruntuhan nilai kekeluargaan dalam masyarakat Malaysia moden yang memencilkan warga tua, Meniti Senja membongkar peningkatan membimbangkan kes warga tua yang ditinggalkan keseorangan di rumah penjagaan warga emas - jauh dari keselesaan hidup di rumah sendiri bersama anak-anak yang dibesarkan mereka. Menceritakan semula kisah-kisah mereka yang pernah menjadi ibu, bapa, datuk, dan nenek - yang kini beransur-ansur dimamah usia bersama orang-orang asing dalam rumah jagaan di Puchong, filem ini merakam kisah-kisah penganiayaan, eksploitasi, dan peninggalan yang menyayat hati. Setiap orang akan meniti usia tua, dan menjelang 2030, populasi rakyat berusia lebih 65 tahun akan meningkat sehingga 15%. Adakah kita sedang menyaksikan takdir sendiri di masa hadapan yang tak begitu lama lagi?

FreedomFilmFest2020 Film Grant Winner - Premiere

Directors: Loh Jo Yee, Hidayah Hisham & Dominique Teoh

Malaysia | Documentary | Malay with English subtitles | 18 mins

In a country where possession of cannabis is punishable with death, Siti finds herself pulled into the unfamiliar world of lengthy legal proceedings and prison visits when her 60 year old father is arrested for using medical cannabis to treat his chronic illnesses. In her journey to save her father from the death penalty, Siti finds herself succumbing to fear and anxiety as she navigates through her own personal challenges - all the while fearing that she might never see her father again. All in all, ‘Ayahku, Dr. G’ is a story about a daughter’s quest for her father’s justice from a law that puts punishment before public health.

Dalam negara di mana pemilikan ganja boleh disabitkan dengan hukuman mati, Siti dibelenggu dengan proses perbicaraan mahkamah yang tiada penghujung serta kerap melawat ayahnya di penjara. Ayahnya yang berusia 60 tahun ditahan kerana mengambil ganja sebagai ubat untuk merawat penyakit kronik yang dihidapinya. Setiap cabaran yang dihadapi Siti untuk menyelamatkan ayahnya dari tali gantung menambahkan lagi perasaan takut dan resah dalam dirinya. Persoalan yang sering terngiang di kepala hanyalah satu - Adakah dia bakal kehilangan ayahnya?. ‘Ayahku, Dr. G’ menceritakan tentang kisah seorang anak yang bertungkus-lumus mencari keadilan buat ayahnya, mangsa undang-undang yang memandang enteng terhadap kebajikan awam dan menjurus kepada hukuman.

FreedomFilmFest2020 Film Grant Winner - Premiere

Director- Jessica Lee

Singapore | Documentary | Malay with English subtitles | 14 mins

The Shades of Love is an intimate journey into the loves, lives and losses of 3 sex workers in Singapore. As an ordinary day in this city unfolds, the voices of these women take us beyond the everyday we dwell in, into the lived experiences they inhabit. Moving beyond the one-dimensional perception of sex workers, these women are also lovers, daughters, therapists, entrepreneurs, and educators. By shedding light on the humanity, dignity, and power of this marginalised and underserved community, their stories teach us one thing - love and life come in various shades.

Shades of Love adalah sebuah perjalanan intim menelusuri cinta, kehidupan, dan kehilangan buat tiga orang pekerja seks di Singapura. Di sebalik hari-hari biasa di kota ini, suara wanita-wanita ini membawa kita melangkaui kebiasaan kita, ke dalam pengalaman yang dilalui mereka. Meninggalkan pandangan satu dimensi tentang pekerja seks, wanita-wanita ini juga adalah pencinta, anak gadis, ahli terapi, usahawan, dan pendidik. Dengan menyuluhkan cahaya ke arah sisi kemanusiaan, harga diri, dan kuasa yang dimiliki oleh komuniti tertindas dan terasing ini, kisah mereka mengajar kita satu perkara - cinta dan kehidupan datang dalam pelbagai warna.

FreedomFilmFest2020 Film Grant Shortlist - Premiere

Director - Nurfitri Amir

Malaysia | Documentary | Malay with English subtitles | 17 mins

A rural smallholding padi farmer from Alor Pongsu, Azhar rues the bitterness of an exploitative system where farmers like him are shortchanged with expensive commercial seeds that increasingly yield poor harvests despite all their hard work and dedication. Angered by the declining harvests and rising costs, Azhar takes matters into his own hands by cultivating rice seeds, an age-old farming practice long since forgotten after the government started aggressively marketing commercial seeds. However, he faces a battle to correct government-sown misconceptions of farmers being failures due to laziness and unwillingness to learn modern techniques. Matters come to q head and Azhar must decide it’s time for farmers to band together to seek justice and demand change to their common livelihoods.

Azhar merupakan seorang pesawah yang berwawasan, rajin dan gigih berusaha. Beliau berasal dari Alor Pongsu, sebuah pekan kecil di utara Perak yang dikelilingi sawah padi. Beliau terlibat dalam pekerjaan sebagai petani sejak berumur 16 tahun lagi.

Kini berusia 52 tahun Azhar cukup berpengalaman dan sudah masak dengan pelbagai isu dan masalah di sawahnya. Eksploitasi harga benih padi sah yang mahal dan kualiti yang teruk yang berlaku hampir setiap kali tiba musim menanam mengecewakan beliau. Azhar mengurangkan kebergantungan terhadap benih komersial dengan memproses benih padinya sendiri di rumah yang merupakan ilmu pertanian tradisional yang semakin lama ditinggalkan sejak penghasilan benih secara komersial digalakkan kerajaan.

Marah dan tertekan dengan tekanan pendapatan yang semakin berkurangan serta kos yang semakin meningkat serta tuduhan yang mengatakan petani malas dan tidak berpengetahuan, Azhar berazam untuk menuntut keadilan dan melakukan perubahan terhadap nasib pesawah seperti beliau bersama-sama dengan sahabat-sabahat beliau.

FreedomFilmFest2020 Film Grant Shortlist - Premiere

Director - Goh Choon Ean

Malaysia | Documentary | English, Malay & Mandarin with English subtitles | 20 mins

A human rights activist produces a contemporary shadow play about death and abuse in custody, while in the midst of her journey to make sense of the injustice that takes place behind and beyond the bars. Di Luar Bayangan / Beyond Understanding is a series of short films about death and abuse in custody. Each story highlights a different journey, from perspectives of victims, their families, lawyers, activists, and human rights workers.

Seorang aktivis hak asasi manusia menghasilkan wayang kulit kontemporari mengenai kematian dan penyalahgunaan dalam tahanan, dalam perjalanannya untuk memahami ketidakadilan yang berlaku di belakang dan di luar jeriji besi. Di Luar Bayangan / Beyond Understanding adalah satu siri filem pendek mengenai kematian dan penderaan dalam tahanan. Setiap kisah menyoroti perjalanan yang berbeza, dari perspektif mangsa, keluarga mereka, peguam, aktivis, dan pekerja hak asasi manusia.

Premiere

Producers - Ada Along, Analisa Atang, Arni Natasya Ibrahim, Azie Ibrahim, Diana Tan, Lungey Uda, Maranisnie Mohsin, Natasya Robut, Niwani Sari, Nora Kantin, Rosdila Ngah Roslan, Rosita Dollah, Selindang Seliman, Sherry Tan, Sylvia Othman, Yaliyana Lenab

Malaysia | Short Film | Temiar with English subtitles | 13 mins

Aleh, a young Orang Asli woman, struggles to find support from her village when her family's ancestral land is encroached. In fear of losing her land that she also uses to grow ubi kayu, she seeks out famous Orang Asli YouTuber Rien to expose and share her story. But Rien refuses at first as she believes that their community should pursue a better life in the city instead of farming on their land. Aleh and Rien eventually realise that they share similar struggles because of their identity. Together, they find their voice and speak out.

Aleh, seorang wanita muda Orang Asli, kurang mendapat sokongan kampungnya apabila tanah keluargnya dicereboh. Beliau menggunakan tanah tersebut untuk menanam ubi kayu dan Aleh risau akan hilang hak terhadap warisan itu. Bagi menceritakan kisahnya dan mendapatkan pertolongan pihak luar, Aleh mencari Rien, seorang YouTuber Orang Asli yang terkenal. Pada mulannya Rien tidak berminat kerana beliau merasakan Orang Asli patut meninggalkan kampung dan mencari kehidupan yang lebih baik di bandar. Namun lama kelamaan, Rien sedar bahawa beliau dan Aleh mempunyai cabaran hidup yang sama kerana identiti mereka sebagai Orang Asli. Oleh itu, mereka bergabung tenaga dan tekad untuk menyuarakan diri mereka.

Premiere

Director - Arian Md Zahari

Malaysia | Documentary | Malay with English subtitles | 23 mins

Political documentary Nasir Jani Melawan Lembaga Puaka follows the cult-filmmaker of ‘Kembara Seniman Jalanan’ on his reflective journey looking at the complex culture of censorship in Malaysia. In particular 1992, the year rock musicians were give the short shrift- literally having their hair cropped on stage. Live on-air. What truly went on behind the scenes of this most shocking event in nineties Malaysia, affected the creative output of Nasir Jani in the succeeding years. This intertwining of Mahathirism in its formative period to the ironic culture of authoritarianism - this documentary visualises multiple perspectives of upcoming filmmakers, Amanda Nell Eu and Steven Sarathbabu, grappling and negotiating with the logic of censorship and what goes on behind it.

92’. Rockers menangis. Langsung dari kaca tivi. Apa yang berlaku di sebalik peristiwa awal 90-an yang cukup mengejutkan di Malaysia ini sekaligus memberi kesan kepada pengkaryaan Nasir Jani pada tahun-tahun berikutnya? Dokumentari ‘Kembara Nasir Jani Melawan Lembaga Puaka’ mengekor perjalanan pembikin filem-kultus ‘Kembara Seniman Jalanan’ ini dalam merenung kompleksnya budaya penapisan di Malaysia. Pertembungan Mahathirisme di awal-awal pemerintahannya sehinggalah budaya autoritarian yang cukup ironis, dokumentari ini juga menanggapi perspektif rencam dari pembikin filem muda, Amanda Nell Eu dan Steven Sarathbabu yang bergelut dan menggelecek dengan logik penapisan serta apa yang berlaku di baliknya.

Premiere

Produced by: Arni Natasya, Azie Suzana, Lungey Uda, Maranisnie Mohsin, Rosdila Roslan, Rosita Dollah, Selindang Seliman, Sherry Tan, Sylvia Othman, Yaliyana Lenab

Malaysia | Short Film | Malay with English Subtitles | 15 mins

Deep in a forest in Perak, two young Orang Asli women from the city named Nget and Abong are enjoying the beauty and calmness of nature. But their enjoyment quickly turned into despair when Abong suddenly falls gravely ill. In their quest for healing, they discover their elders' knowledge in the medicinal properties of herbs and their deep spiritual and physical ties with the forest. They experience true healing when they finally reconnect with their traditional values and identity.

Jauh di dalam sebuah hutan di Perak, Nget dan Abong, dua wanita Orang Asli dari bandar dibuai ketenteraman dan keindahan alam semulajadi. Tetapi kebahagian mereka bertukar menjadi kesedihan apabila Abong tiba-tiba jatuh sakit. Dalam usaha mencari penawar bagi penyakit Abong mereka kembali kepada tradisi ubat-ubatan nenek moyang mereka. Di dalam tradisi tersebut, Nget dan Abong menjalin pertalian rohani dan fizikal dengan dunia rimba. Dengan kembalinya mereka pada identiti dan nilai-nilai tradisi, kedua-dua wanita itu menjumpai penawar hati yang sejati.

Premiere

Director - Norhayati Kaprawi

Malaysia | Short Animation | Malay with English subtitles | 5 mins

Kak Eton, a 40-year-old woman, is left by her husband for another woman. Shattered and alone, she decides to rebuild her life by creating her own world with her two bare hands.

Dalam dokumentari yang disampaikan dalam bentuk animasi ini, Kak Ton (bukan nama sebenar) menceritakan sendiri kisah suka dukanya serta bagaimana Kak Ton menghadapi cabaran dalam hidupnya setelah ditinggalkan oleh suaminya yang berkahwin lain tanpa pengetahuannya.

Screening with SULOH

Director – Kat Catalan
Phillipines | Short Documentary | Tagalog with English subtitles | 6 mins

Still Here, Still Walking is a diary film about a Filipino struggling to reconcile contradictions between her mental health issues and her political activism. It builds on her reflections, starting as a naïve art student from a school founded by Imelda Marcos to a conscious participant in protests against President Rodrigo Duterte. This overlaps with conflicts with her family, her studies, her comrades, and within herself.

Still Here, Still Walking” adalah sebuah filem yang berbentuk diari oleh seorang aktivis Filipina dalam usahanya menangani isu kesihatan mentalnya dan aktivisme politiknya. Ia mengikuti perkembangannya dari seorang mahasiswa yang naif di institut seni yang ditubuhkan isteri bekas diktator Imelda Marcos kepada seorang pejuang menentang president Rodrigo Duterte. Beliau juga mengalami cabaran mengimbangi perjuangnya dengan tekanan daripada keluarga, pelajaran, sahabat-sahabat dan daripada dalam dirinya.

Screening with SULOH

Director – Kartika Pratiwi

Indonesia | Short Documentary | Bahasa Indonesia with English subtitles | 5 mins

In Indonesia, 1965. Suddenly, hundreds of thousands of people were arrested without official warrants. Some returned home, many disappeared forever. Hundreds of thousands, if not millions, of children lost their parents. A Daughter’s Memory, is a story of one of survivors of the darkest chapters in Indonesia’s history. She recalls her memories with her loving father who was one of the senior leaders of Indonesian Communist Party.

Indonesia, 1965. Beratusan ribu individu ditangkap oleh kerajaan tanpa sebarang alasan rasmi. Sesetengah daripada mereka dilepaskan. Tetapi ramai lagi yang hilang selama-lamanya. Beratusan ribu, malah berjuta anak-anak hilang ibubapa mereka. “A Daughter’s memori” adalah sebuah kisah seorang yang telah menempuh sejarah hitam ini. Beliau mengimbas kembali memori ayahnya yang tercinta yang merupakan pemimpin kanan Parti Komunis Indonesia.

Preview

Director - Jason Ong Aik Lee

Malaysia |Short Documentary | Malay with English subtitles | 8 mins

A phone call announces the loss of a father in a family. A tragedy in custody. Committed crime or not, do these people behind bars deserve such inhumane treatment? A shadow play inspired by the true story of Chandran Perumal, and based on actual court transcripts. Di Luar Bayangan / Beyond Understanding is a series of short films about death and abuse in custody. Each story highlights a different journey, from perspectives of victims, their families, lawyers, activists, and human rights workers.

Sebuah panggilan telefon membawa berita kehilangan seorang bapa buat keluarga. Sebuah tragedi dalam tahanan. Bersalah atau tidak, adakah tahanan di balik jeriji besi ini boleh diperlakukan tanpa perikemanusiaan sedemikian? Sebuah wayang kulit yang diinspirasikan dari kisah Chandran Perumal. Di Luar Bayangan / Beyond Understanding adalah satu siri filem pendek mengenai kematian dan penderaan dalam tahanan. Setiap kisah menyoroti perjalanan yang berbeza, dari perspektif mangsa, keluarga mereka, peguam, aktivis, dan pekerja hak asasi manusia.

A Retrospective of Singaporean Filmmakers

This year’s Festival showcases a retrospective of four Singaporean filmmakers – Lynn Lee, Tay Bee Pin, Tan Pin Pin and Martyn See – their differing cinematic styles offer us a unique Singaporean signature touching on the art-of-the-state propaganda in North Korea, plight of sex workers, political dissent, media censorship and an unforgettable fire in Singapore’s HDB housing heartland.

2012 Release

Director - Lynn Lee

Singapore | Documentary | Korean with English subtitles | 94 mins

North Korea’s film industry is a vital tool in the regime's vast propaganda machinery. Now, for the first time ever, foreign filmmakers have been allowed into the country's only film school - an elite institution where young talents are trained to create works that will not only entertain, but help shape the psyche of an entire nation. Kim Un Bom and Ri Yun Mi are two aspiring actors handpicked to become future movie stars. Idealistic and ambitious, they have huge dreams. Their lives are a reflection of how the best and brightest live in the world's most secretive state. Over at the North Korean Film Studio, Director Pyo Hang is racing to complete the country’s latest blockbuster, a period drama featuring a cast of hundreds. It’s a highly stressful environment and Pyo has his work cut out – he must not only rally his cast and crew, he must deliver a masterpiece that will please his leaders.

Industri filem Korea Utara adalah alatan penting dalam jentera propaganda meluas rejim tersebut. Kini, untuk pertama kali, pembikin filem luar negara dibenarkan untuk menjejakkan kaki ke satu-satunya sekolah filem negara tersebut – sebuah institusi elit di mana bakat-bakat muda dilatih untuk menghasilkan karya yang bukan sahaja menghiburkan, tetapi juga membentuk pemikiran seluruh negara. Kim Un Bom dan Ri Yun Mi adalah dua orang pelakon baharu yang terpilih khusus untuk menjadi bintang filem masa hadapan. Idealistik dan bercita-cita tinggi, mereka menyimpan impian besar. Kehidupan mereka adalah cerminan kepada bagaimana golongan terbaik dan terpintar melalui kehidupan di negara paling berahsia tersebut. Di Studio Filem Korea Utara, Pengarah Pyo Hang mengejar masa untuk menyiapkan filem pecah panggung terbaharu, sebuah filem drama masa lampau yang membariskan ratusan pelakon. Ia sebuah keadaan yang amat menekan dan hasil kerjanya sudah ditentukan – beliau bukan sahaja perlu mengumpulkan pelakon dan krewnya, tetapi juga perlu menghasilkan sebuah karya yang menyenangkan pemimpinnya.

The Guardian - “Behind the scenes of the propaganda movie industry: documentary film-makers Lynn Lee and James Leong followed the making of an anti-Japanese propaganda movie meant to glorify North Korea's 50 year-old Songun or 'military first' campaign. These excerpts from their documentary, The Great North Korean Picture Show, reveal the determination of cast and crew to please the Pyongyang regime”

Recent Screening -Bergen International Film Festival - Norway, Oct 2020

2007 Release

Director – Tan Pin Pin

Singapore | Documentary | Mandarin, Japanese, English with English subtitles | 60 mins

Invisible City is a documentary about documenteurs. The director interviews photographers, journalists, archaeologists, people propelled by curiosity to find a City for themselves. The documentary conveys how deeply personal their search is and how fragile histories are, hanging on only through their memories and artefacts. Interwoven with the interviews is never seen before footage and photos of Singapore culled from their personal archives. In Invisible City, you witness the atrophy of memory, you see a City that could have been. Invisible City opened in Singapore for a theatrical run on 22 July 2007 where it had a four week sold out run.

Invisible City adalah dokumentari tentang orang di sebalik dokumentari. Pengarah telah menemubual jurugambar, wartawan, ahli arkeologi, dan orang-orang yang hidup dipandu sifat ingin tahu untuk mencari 'Kota' buat diri sendiri. Dokumentari ini mengisahkan betapa peribadinya pencarian mereka dan bagaimana rapuhnya sejarah, terus hidup semata-mata melalui memori dan artifak tinggalan. Temubual yang dipaparkan turut diselangi dengan rakaman dan gambar-gambar berkaitan Singapura yang tidak pernah dilihat sebelum ini, yang dibongkar dari simpanan dan arkib peribadi mereka. Melalui Invisible City, anda akan menyaksikan sisa-sisa memori, sebuah Kota yang hampir menjadi nyata.

2015 Release

Director - Martyn See

Singapore | Documentary | English with subtitles | 416 mins

An interview with Said Zahari, a staunch anti-colonial newspaper editor who was accused by the Singapore government of alleged involvement in pro-communist activities and subsequently detained without trial from 1963 to 1979. This film is banned by the Singapore government for "undermining public confidence in the Government."

Sebuah wawancara bersama Said Zahari, seorang editor akhbar anti penjajah yang tegas yang dituduh oleh kerajaan Singapura sebagai terlibat dalam aktiviti pro-komunis dan akhirnya ditahan tanpa bicara dari 1963 hingga 1979. File mini telah diharamkan oleh kerajaan Singapura atas sebab “menggugat keyakinan masyarakat awam terhadap Kerajaan”. seorang editor akhbar anti penjajah yang tegas yang dituduh oleh kerajaan Singapura sebagai terlibat dalam aktiviti pro-komunis dan akhirnya ditahan tanpa bicara dari 1963 hingga 1979. File mini telah diharamkan oleh kerajaan Singapura atas sebab “menggugat keyakinan masyarakat awam terhadap Kerajaan”.

2015 Release

Director: Tay Bee Pin

Singapore | Documentary | English and Mandarin with English subtitles | 9 mins

“This place was once burnt down.” Metaphorically, it was no child’s play but that was literally true for Siglap’s big fire in 1962. Today, Mr Lim’s old movie ticket is a sentimental memento that reminds him of one of Singapore’s first public housing. Farewell, the four HDB blocks of Siglap.

“Tempat ini pernah terbakar hangus”. Sebagai kiasan, ia bukan perkara kecil tetapi ini adalah kejadian sebenar iaitu kebakaran besar Siglap pada 1962. Hari ini, tiket filem lama milik En Lim menjadi kenang-kenangan sentimental yang mengingatkannya kepada perumahan awam pertama di Singapura. Selamat tinggal, rumah HDP Siglap.

2020 Release

Director – Tay Bee Pin

Singapore | Music Video | English, Malay, Mandarin and Tamil with English/Mandarin subtitles | 7 mins

A music video on being a good Singaporean and a homage to Joshua Benjamin Jeyaretnam (JBJ), the first opposition politician to win a seat in Parliament since Singapore's independence.

Sebuah video muzik tentang menjadi warga Singapura yang baik dan pernghormatan buat Joshua Benjamin Jeyaretnam (JBJ), ahli politik pembangkang pertama yang memenangi kerusi Parlimen sejak kemerdekaan Singapura.

2012 Release

Director - Lynn Lee

Singapore | Documentary | Korean with English subtitles | 94 mins

North Korea’s film industry is a vital tool in the regime's vast propaganda machinery. Now, for the first time ever, foreign filmmakers have been allowed into the country's only film school - an elite institution where young talents are trained to create works that will not only entertain, but help shape the psyche of an entire nation. Kim Un Bom and Ri Yun Mi are two aspiring actors handpicked to become future movie stars. Idealistic and ambitious, they have huge dreams. Their lives are a reflection of how the best and brightest live in the world's most secretive state. Over at the North Korean Film Studio, Director Pyo Hang is racing to complete the country’s latest blockbuster, a period drama featuring a cast of hundreds. It’s a highly stressful environment and Pyo has his work cut out – he must not only rally his cast and crew, he must deliver a masterpiece that will please his leaders.

Industri filem Korea Utara adalah alatan penting dalam jentera propaganda meluas rejim tersebut. Kini, untuk pertama kali, pembikin filem luar negara dibenarkan untuk menjejakkan kaki ke satu-satunya sekolah filem negara tersebut – sebuah institusi elit di mana bakat-bakat muda dilatih untuk menghasilkan karya yang bukan sahaja menghiburkan, tetapi juga membentuk pemikiran seluruh negara. Kim Un Bom dan Ri Yun Mi adalah dua orang pelakon baharu yang terpilih khusus untuk menjadi bintang filem masa hadapan. Idealistik dan bercita-cita tinggi, mereka menyimpan impian besar. Kehidupan mereka adalah cerminan kepada bagaimana golongan terbaik dan terpintar melalui kehidupan di negara paling berahsia tersebut. Di Studio Filem Korea Utara, Pengarah Pyo Hang mengejar masa untuk menyiapkan filem pecah panggung terbaharu, sebuah filem drama masa lampau yang membariskan ratusan pelakon. Ia sebuah keadaan yang amat menekan dan hasil kerjanya sudah ditentukan – beliau bukan sahaja perlu mengumpulkan pelakon dan krewnya, tetapi juga perlu menghasilkan sebuah karya yang menyenangkan pemimpinnya.

The Guardian - “Behind the scenes of the propaganda movie industry: documentary film-makers Lynn Lee and James Leong followed the making of an anti-Japanese propaganda movie meant to glorify North Korea's 50 year-old Songun or 'military first' campaign. These excerpts from their documentary, The Great North Korean Picture Show, reveal the determination of cast and crew to please the Pyongyang regime”

Recent Screening -Bergen International Film Festival - Norway, Oct 2020

2007 Release

Director – Tan Pin Pin

Singapore | Documentary | Mandarin, Japanese, English with English subtitles | 60 mins

Invisible City is a documentary about documenteurs. The director interviews photographers, journalists, archaeologists, people propelled by curiosity to find a City for themselves. The documentary conveys how deeply personal their search is and how fragile histories are, hanging on only through their memories and artefacts. Interwoven with the interviews is never seen before footage and photos of Singapore culled from their personal archives. In Invisible City, you witness the atrophy of memory, you see a City that could have been. Invisible City opened in Singapore for a theatrical run on 22 July 2007 where it had a four week sold out run.

Invisible City adalah dokumentari tentang orang di sebalik dokumentari. Pengarah telah menemubual jurugambar, wartawan, ahli arkeologi, dan orang-orang yang hidup dipandu sifat ingin tahu untuk mencari 'Kota' buat diri sendiri. Dokumentari ini mengisahkan betapa peribadinya pencarian mereka dan bagaimana rapuhnya sejarah, terus hidup semata-mata melalui memori dan artifak tinggalan. Temubual yang dipaparkan turut diselangi dengan rakaman dan gambar-gambar berkaitan Singapura yang tidak pernah dilihat sebelum ini, yang dibongkar dari simpanan dan arkib peribadi mereka. Melalui Invisible City, anda akan menyaksikan sisa-sisa memori, sebuah Kota yang hampir menjadi nyata.

2015 Release

Director - Martyn See

Singapore | Documentary | English with subtitles | 416 mins

An interview with Said Zahari, a staunch anti-colonial newspaper editor who was accused by the Singapore government of alleged involvement in pro-communist activities and subsequently detained without trial from 1963 to 1979. This film is banned by the Singapore government for "undermining public confidence in the Government."

Sebuah wawancara bersama Said Zahari, seorang editor akhbar anti penjajah yang tegas yang dituduh oleh kerajaan Singapura sebagai terlibat dalam aktiviti pro-komunis dan akhirnya ditahan tanpa bicara dari 1963 hingga 1979. File mini telah diharamkan oleh kerajaan Singapura atas sebab “menggugat keyakinan masyarakat awam terhadap Kerajaan”. seorang editor akhbar anti penjajah yang tegas yang dituduh oleh kerajaan Singapura sebagai terlibat dalam aktiviti pro-komunis dan akhirnya ditahan tanpa bicara dari 1963 hingga 1979. File mini telah diharamkan oleh kerajaan Singapura atas sebab “menggugat keyakinan masyarakat awam terhadap Kerajaan”.

2015 Release

Director: Tay Bee Pin

Singapore | Documentary | English and Mandarin with English subtitles | 9 mins

“This place was once burnt down.” Metaphorically, it was no child’s play but that was literally true for Siglap’s big fire in 1962. Today, Mr Lim’s old movie ticket is a sentimental memento that reminds him of one of Singapore’s first public housing. Farewell, the four HDB blocks of Siglap.

“Tempat ini pernah terbakar hangus”. Sebagai kiasan, ia bukan perkara kecil tetapi ini adalah kejadian sebenar iaitu kebakaran besar Siglap pada 1962. Hari ini, tiket filem lama milik En Lim menjadi kenang-kenangan sentimental yang mengingatkannya kepada perumahan awam pertama di Singapura. Selamat tinggal, rumah HDP Siglap.

2020 Release

Director – Tay Bee Pin

Singapore | Music Video | English, Malay, Mandarin and Tamil with English/Mandarin subtitles | 7 mins

A music video on being a good Singaporean and a homage to Joshua Benjamin Jeyaretnam (JBJ), the first opposition politician to win a seat in Parliament since Singapore's independence.

Sebuah video muzik tentang menjadi warga Singapura yang baik dan pernghormatan buat Joshua Benjamin Jeyaretnam (JBJ), ahli politik pembangkang pertama yang memenangi kerusi Parlimen sejak kemerdekaan Singapura.